Mari Mengenal Hadi Susanto, Doktor Asal Lumajang yang Mengajar di UK
Hadi Susanto, dosen asal Indonesia satu ini sangat
menginispirasi
Bagi Hadi Susanto,
karier yang saat ini ia lakoni tidak lepas dari penderitaan dan perjuangan
semasa mudanya. Ia bukanlah seorang yang terlahir di keluarga yang kaya. Ia
saja hampir tidak bisa melanjutkan kuliah karena faktor kondisi keluarga.
Namun, ia pun berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Institut
Teknologi Bandung. Meski begitu, ia harus tetap berjuang dan mengalami berbagai
penderitaan selama kuliah. Nah, bagaimana perjalanan kisah inspiratif Hadi
Susanto sehingga sekarang menjadi pakar Matematika?
Terlihat mudah meniti karir, apakah semudah kelihatannya? Tidak!
Pada dua tahun pertama kuliah di ITB, kondisi Hadi Susanto sangat sulit. Walaupun mendapatkan beasiswa, beliau tetap harus kerja sampingan karena uang beasiswa saja tidak cukup. Uang kerja dan beasiswa yang didapatkan itu kemudian dibagi tiga: untuk kebutuhan pribadi di Bandung, keperluan orang tua di kampung halaman, dan biaya kuliah adik.
Bahkan setiap
Sabtu-Minggu, beliau rela keliling hotel dan gedung resepsi di Bandung hanya
bermodal pakaian rapi. Tanpa mengetahui siapa yang punya hajat, beliau masuk ke
pesta orang-orang kaya demi bisa makan. Tak punya uang untuk membeli tiket
kereta ekonomi setelah libur Lebaran, beliau naik kereta barang untuk kembali
ke Bandung. Duduk di lantai gerbong bersama sekitar seratus orang kurang lebih
selama 12 jam itu berlangsung malam hari, tanpa lampu di gerbong. Itu beberapa
contoh, yang mana hal kecil seperti makan harian saja tidak mampu dibelinya.
Penderitaan lain yang beliau alami banyak sekali.
Meskipun sudah sering
mendapatkan berbagai penghargaan di berbagai seminar tingkat dunia dan menjadi
dosen di luar negeri, ilmu tinggi dan penghargaan akademik itu tidak lantas
membuat Hadi Susanto tinggi hati dan congkak. Kata
teman-temannya, sikap santunnya masih seperti ketika SMA.
Menyelesaikan kuliah dalam 3 tahun dan meraih predikat Mahasiswa Terbaik ITB pada tahun 2000.
Masa kuliah Hadi Susanto sebenarnya hampir 4 tahun. Saat kuliah di ITB, prestasinya yang bagus membuatnya bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat. Kuliah saja memang hanya 3 tahun, akan tetapi memasuki tahun ke-4, beliau maju ke dosennya untuk mengusulkan penelitian Tugas Akhir yang akan beliau lakukan.
Merasa tidak memiliki
banyak uang, Hadi ingin segera lulus kuliah agar bisa bekerja dan meringankan
beban orangtua. Namun, dosennya memiliki rencana lain. Beliau berkesempatan
mengunjungi Belanda selama delapan bulan untuk mengerjakan TA di Universiteit
Twente (UT). Ini tidak sesuai dengan rencana sebelumnya, untuk segera
lulus cepat dari ITB. Tetapi dosennya meyakinkan bahwa jika beliau bisa
mengerjakan penelitian dengan baik, ada kemungkinan beliau mendapat beasiswa
sampai S3.
Setelah selesai
penelitian di UT, Hadi berkesempatan mendapatkan beasiswa hingga S3. Tapi
karena belum wisuda, beliau harus pulang ke Indonesia. Begitu diwisuda pada
tahun 2000, Hadi Susanto diumumkan terpilih sebagai penerima Ganesha
Prize dengan hadiah mengunjungi Belanda lagi selama 3 bulan, karena
ditawari melanjutkan kuliah di sana. Mulai Agustus 2001, Hadi mengambil program
kombinasi MSc/PhD untuk periode 4 tahun di UT.
30 kilometer pulang – Hadi Susanto pergi bersepeda demi SEKOLAH
Hadi Susanto kecil yang tidak naik angkutan umum
walaupun dia tinggal di luar kota. Setiap hari, dia berangkat pagi-pagi ke
sekolah mengendarai sepeda onthel dari rumahnya di Desa Kunir ke sekolahnya di
pinggiran Lumajang yang berjarak 15 kilometer. Dapat dibayangkan setiap hari
dia harus menempuh 30 kilometer pulang-pergi sekolah.
Pada zaman sekolah
beliau dulu, teman-teman yang tinggal di dekat sekolah biasanya berjalan kaki
saat berangkat sekolah, yang tinggal agak jauh dari sekolah biasanya
diantar-jemput orang tua mereka. Pada masa itu, cuma sedikit yang membawa
sepeda motor. Sebagian besar naik sepeda onthel. Sedangkan yang berasal dari
luar kota, kebanyakan kos atau naik kendaraan umum.
Tak lupa ia selalu
membawa bekal dari rumahnya. Berasal dari keluarga kurang beruntung membuatnya
harus bersepeda setiap hari ke sekolah dan tidak jajan di kantin seperti
anak-anak lain. Namun, walaupun setiap hari menempuh 30 kilometer pulang –
pergi sekolah, tidak lantas membuat otaknya ‘aus’. Dia selalu langganan ranking
bagus hingga akhir sekolahnya.
Berpindah-pindah dari Belanda, Amerika Serikat, bahkan berakhir tinggal di Inggris sebagai Doktor Matematika, bagaimana ceritanya?
Begitu selesai studi
di Twente, Hadi melanjutkan studi post-doctoral di
Massachusetts, Amerika Serikat. Beliau mendapatkan visiting assistant
professorship selama 3 tahun di University of Massachusetts (UMass),
Amherst. Selain tugas riset, beliau wajib mengajar dua kelas per semester.
Menjelang selesai di UMass, beliau mengirimkan sejumlah aplikasi ke beberapa
universitas di Amerika Serikat dan Eropa.
Pada awal tahun 2007,
beliau menikah dengan seorang sarjana kedokteran dari Universitas Brawijaya,
seorang wanita yang belum pernah beliau temui. Hanya ta'aruf lewat dunia maya.
Sang istri sempat diajak ke Amerika. Namun, pada tahun 2008, beliau menjadi
dosen di University of Nottingham.
Dulu kondisi ekonomi keluarga tak karuan, nyaris membuatnya tidak melanjutkan ke jenjang kuliah
Ia bersemangat kuliah.
Untuk membayar uang masuk yang beberapa ratus ribu saja keluarganya tak mampu.
Akhirnya, beliau kembali berpikiran untuk tidak mendaftar. Lagi-lagi, sang ibu
berjuang hingga detik terakhir. Ketika pada akhirnya beliau bisa berangkat ke
Bandung, satu tekad beliau adalah untuk berhasil dan membahagiakan keluarga.
Hadi Susanto yang lahir di sebuah desa kecil di
Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini, mengenyam pendidikan di SDN Kunir Lor 1,
SMPN Kunir, dan SMAN 2 Lumajang. Saat masih duduk di sekolah dasar, beliau
selalu mewakili lomba cerdas cermat di tingkat kabupaten. Tetapi, karena grogi
melihat murid dari sekolah lain yang selalu tampak keren dan bergaya daripada
beliau saat itu, beliau selalu tidak mendapatkan poin. Sekarang dunia berbalik;
banyak yang "grogi" melihat peraih Ganesha Prize (Mahasiswa
Terbaik ITB) tahun 2000 itu.
Usaha orangtua Hadi
Susanto sebagai pedagang kain dan baju di pasar mengalami kebangkrutan
total, yang membuat keluarganya terjebak rentenir hingga terpaksa harus menjual
sawah dan rumah yang mereka punya, persis menjelang beliau lulus SMA. Beliau
pun hampir menyerah tidak ikut UMPTN karena sangat kesulitan masalah ekonomi.
Beruntung keluarga, terutama sang ibu, tetap mendukung meski kondisi ekonominya
tidak karuan.
Lulus dari SMA, beliau
diterima di Jurusan Matematika ITB. Hal yang menarik adalah, beliau lolos UMPTN
tanpa kursus dan mengambil tes di Jember (karena Jember lebih dekat dengan
Lumajang). Padahal, terdengar kabar kemungkinan lolos UMPTN kecil jika tidak
melakukan tes di Bandung. Namun, beliau nekat ambil UMPTN di Jember.
Nah, bagaimana respons
Anda setelah mengetahui kisah pakar Matematika satu ini? Semoga kisah Hadi
Susanto ini menginspirasi Anda untuk semangat belajar dan selalu berjuang demi
mendapatkan kualitas hidup yang lebih mulia.

No comments:
Post a Comment